Keberadaan
partikel-partikel atmosferik sangat penting diperhatikan dalam penginderaan
jauh. Akumulasi partikel di atmosfer memberikan pengaruh pada kualitas sebuah
data citra satelit. Partikel-partikel atmosferik tersebut ada yang bersifat
permanen, namun ada pula yang bersifat berubah-ubah. Berikut adalah beberapa
partikel – partikel “penghuni” atmosfer bumi. Kelompok pertama merupakan
partikel yang bersifat permanen, sedangkan kelompok kedua merupakan partikel
yang keberadaanya tidak menentu. Angka yang saya tulis dibelakangnya adalah
perkiraan persentase jumlahnya di atmosfer.
Nitrogen (N2) 78. 084
Oxygen (O2) 20.
948
Argon (Ar) 0.934
Carbon dioxide (CO2) 0.033
Neon (Ne) 18.18 x 10-4
Helium (He) 5.24 x 10-4
Krypton (Kr) 1.14 x 10-4
Xenon (Xe) 0.089 x 10-4
Hydrogen (H2) 0.5
x 10-4
Methane (CH4) 1.5
x 10-4
Nitrous Oxide (N2O) 0.27 x 10-4
Carbon Monoxide (CO) 0.19
x 10-4
Water Vapor (H2O) 0. 04
Ozone (O3) 12 x 10-4
Sulfur dioxide (SO2)b 0.001 x
10-4
Nitrogen dioxide (NO2) 0.001
x 10-4
Ammonia (NH3) 0.001 x 10-4
Nitric oxide (NO) 0.0005 x 10-4
Hydrogen sulfide (H2S) 0.00005
x 10-4
Partikel-partikel
atmosferik tersebut memberikan pengaruh terhadap perjalanan gelombang
elektromagnetik menuju sensor satelit. Selain itu, partikel tersebut juga
mempengaruhi jumlah energi yang mampu kembali ke sensor. Baca artikel ini hamburan partikel atmosferik.
![]() |
Perjalanan gelombang elektromagnetik menuju sensor satelit. Sumber gambar : Moreno, 2007 |
Sebagai contoh,
sekumpulan uap air akan dapat menutupi area di bawahnya, sehingga tidak nampak
pada citra. Uap air yang tipis juga sering membuat data visual citra nampak kurang
jelas.
Dalam
pemanfaatan data citra, pengaruh partikel atmosferik tersebut dapat dikurangi
dengan menggunakan algoritma-algoritma koreksi atmosferik.
Sumber :
Moreno,
J., 2007. Atmospheric Corrections and parameter retrieval. Lecture D1lb2. Advanced training course on
land remote sensing